[Review] Zom 100: Bucket List of the Dead : Menarik di Awal, Amburadul di Akhir

Kanau.org – Sebagai salah satu manga yang ditunggu adaptasi animenya, Zom 100: Bucket List of the Dead menjadi salah satu series yang diantisipasi kehadirannya untuk banyak orang.

Berasal dari author yang sama dengan manga populer yaitu Alice in Borderland, Zom 100 menjadi seri yang dikatakan oleh para fans-nya sebagai salah satu manga zombie terbaik.

Setelah berbagai macam drama delay-nya, apakah secara keseluruhan, Zom 100 adalah anime yang sebagus itu? Simak ulasan berikut ini untuk menjawabnya!!

Informasi umum

  • Judil : Zom 100: Bucket List of the Dead
  • Alias : Bucket List of The Dead, Zombie 100: 100 Things I Want to do Before I Become a Zombie
  • Jepang : ゾン100~ゾンビになるまでにしたい100のこと~
  • Tipe : TV
  • Episode : 12
  • Rilis : 9 Jul, 2023-26 Des, 2023
  • Studio : BUG FILMS
  • Sumber : Manga
  • Genre : Action, Comedy, Horror, Supernatural, Suspense
  • Tema : Adult Cast, Survival
  • Demografi : Seinen
  • Durasi : 24 min. per ep.
  • Rating : R – 17+ (violence & profanity)

Sinopsis

Setelah lulus dari universitas terkemuka dengan catatan ekstrakurikuler yang mengesankan di klub rugby, Akira Tendou telah melakukan setiap langkah untuk mendapatkan pekerjaan impiannya. Selain itu, rekan kerja yang cantik dan baik hati selalu mencerahkan harinya di kantor! Hidup tampaknya berjalan sangat baik bagi Akira sampai dia perlahan menyadari bahwa malam tanpa tidur dan pekerjaan brutal adalah kenyataan barunya.

Karena tiga tahun bekerja keras di sebuah perusahaan yang eksploitatif, Akira tidak dapat mengenali dirinya yang lelah dan tidak berprestasi. Dalam perjalanan menuju kehilangan gairah hidup seperti rekan-rekannya yang terlalu banyak bekerja, Akira menemukan anugerah keselamatannya dengan cara yang paling tidak terduga—munculnya kiamat zombie.

Dengan waktu luang yang akhirnya ia miliki, Akira memutuskan untuk menyelesaikan daftar berisi seratus hal yang ingin ia lakukan sebelum ia akhirnya berubah menjadi zombie. Meski dikelilingi orang mati, Akira tidak pernah merasa lebih hidup!

Ulasan anime

Premis Elite, Pacing Sulit

Anime ini memulai kisahnya dengan konsep yang menggugah: kiamat zombie yang menjadi katalis bagi karakter utama, Akira, untuk membebaskan diri dari tekanan pekerjaan yang mencekik. Premis awal ini berhasil dipadukan dengan kritikan keras tentang ngerinya dunia kerja di Jepang, sampai-sampai lebih baik menjadi zombie.

Namun, narasi anime ini terkadang terasa tidak seimbang, berpindah antara momen dramatis yang serius dan momen komedi yang terlalu ekstrem. Hal ini menciptakan kesan tonal yang membingungkan, mengurangi kesan dramatis yang seharusnya bisa lebih menggigit.

Pacing cerita juga tidak konsisten, membuat arah cerita terasa terpecah-pecah antara pesan yang ingin disampaikan dan kesenangan komedi episodik. Setidaknya anime ini mampu menyampaikan pesan utamanya dengan baik.

Karakter yang Jenaka, tetapi Datar

Akira, sebagai karakter utama, terasa sebagai representasi self-insert yang kurang mendalam. Reaksinya yang dangkal terhadap kiamat zombie menimbulkan ketidakseimbangan emosional yang tidak masuk akal.

Kurangnya pengembangan karakter membuatnya terasa datar dan kurang mengalami pertumbuhan emosional yang berarti sepanjang cerita. Karakter lainnya, seperti Kencho dan Beatrix, cenderung terjebak dalam stereotip yang tidak mendalam, membuat mereka kurang menarik sebagai bagian dari keseluruhan cerita.

Visual Tidak Konsisten, tapi Masih High level

Saat pertama kali dirilis, anime ini memperlihatkan kualitas visual yang menonjol dengan identitas visual yang kuat. Namun, penurunan kualitas animasi pada episode-episode selanjutnya, terutama penggunaan CGI yang kurang memuaskan, mengurangi daya tariknya, tetapi masih di taraf wajar. Hal ini dapat merusak pengalaman menonton karena penurunan konsistensi visual yang terjadi sepanjang perjalanan cerita.

Pemilihan warna-warni sebagai gambaran darah di anime ini sangat kreatif, menunjukkan simbolisme yang unik terkait datarnya dunia dari protagonis pada awalnya. Begitupula pada art style-nya yang setidaknya berhasil menarik perhatian dengan kekreatifan sang mangaka dalam merancang desain zombie dan karakter.

Kombinasi OST dan Seiyuu yang Sempurna

Aspek audio anime ini memiliki kombinasi menarik. Lagu opening dan ending memberikan kontribusi yang baik dalam menciptakan suasana, dan memberikan kita hint terkait tone yang coba anime ini bawakan. Namun beberapa momen komedi yang kurang berhasil dan kurangnya relevansi dalam beberapa aspek audio menurunkan kualitas keseluruhan.

Walau begitu, penampilan jajaran seiyuu, terutama Beatrix yang disuarakan, memberikan warna tersendiri yang segar dalam kisah, membawa nuansa positif bagi dinamika kelompok karakter.

Kesimpulan

“Zom 100: Bucket List of the Dead” memiliki konsep yang menyegarkan tentang escapism di tengah kiamat zombie.

Kendati demikian, kesalahan dalam pengembangan karakter, penurunan kualitas animasi, dan kesulitan dalam menjaga konsistensi narasi membuat potensinya tereduksi.

Meskipun demikian, bagi yang mencari hiburan simpel dengan momen-momen komedi, anime ini bisa menjadi pilihan yang layak. Namun, bagi yang mengharapkan kedalaman cerita dan karakter, anime ini mungkin kurang memuaskan.

Rating : 6.5/10

Perasaan menonton anime ini bercampur. Banyak momen-momen komedi yang berhasil membuat tertawa.

Kebingungan dalam arah cerita dan kurangnya kedalaman karakter membuat pengalaman menonton menjadi kurang memuaskan.

Namun, tetap ada momen yang menghibur meskipun tidak merata sepanjang cerita.

Bagi kamu yang tertarik menonton anime ini, silahkan cek di YouTube Channel Muse Indonesia dan Muse Asia, ya…