[Review] Anime “Pet”: Sebuah Penjelasan

0 203
Menjabarkan keadaan tingkat kesadaran yang ada, tetapi sering dilupakan kalangan non-medis.
Visual Promosi anime Pet.

Selamat datang di KANAU

Pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas sebuah serial anime yang memiliki cerita menarik, visual menawan, lagu pembuka dan penutup yang tidak main-main, serta narasi yang “nyeleneh” membuat anime ini jadi salah satu daftar tontonan wajib yang harus disimpan. Namun sayangnya anime ini termasuk ke dalam anime yang jarang diketahui banyak orang.

Serial anime yang kami maksud ialah Pet.

Sebagai sebuah serial fiksi, Pet memang kurang dikenal di kalangan penggemar anime dan manga dibandingkan dengan sebagian serial mainstream lainnya. Namun bagi penggemar genre psikologis dan supranatural, Pet merupakan salah satu berlian yang wajib ditonton. Oleh karena itu, berbagai ulasan positif tentang anime ini sudah banyak ditulis dalam berbagai media. Silakan dilihat berbagai ulasan berikut [1] [2] [3] [4].

Akan tetapi, tulisan kali ini tidak akan mengulas lebih jauh tentang anime yang satu ini. Berawal dari salah satu diskusi di sebuah forum internet, kami berkesimpulan bahwa anime Pet akan jauh lebih menarik jika kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kami menyarankan untuk membaca artikel ini setelah menonton animenya terlebih dahulu. Namun membaca artikel ini sebelum menonton pun kami jamin tidak akan mengurangi keseruan saat menonton serial ini.

Informasi Umum

  • Type: TV
  • Episodes: 13
  • Status: Finished Airing
  • Aired: Jan 6, 2020 to Mar 30, 2020
  • PremieredWinter 2020
  • BroadcastMondays at 22:00 (JST)
  • Producers: Fujipacific Music, Ai Addiction , Twin Engine
  • Licensors: Sentai Filmworks
  • Studios: Geno Studio
  • Source: Manga
  • Genres: Mystery, Supernatural
  • Theme: Psychological
  • Duration: 23 min. per ep.
  • Rating: PG- 17+

Sinopsis

Anime ini berkisah tentang orang-orang yang dapat masuk dan mengontrol pikiran orang lain. Kekuatan ini digunakan untuk mengungkap kasus, dan misteri atau bisa jadi untuk membunuh. Potensi kekuatan tersebut cukup kuat hingga mampu menghancurkan pikiran orang, tapi sebaliknya juga bisa menghancurkan pikiran mereka sendiri. Untuk mengatasinya, digunakan rantai untuk mengunci dan melindungi hati yang lemah dan membahayakan satu sama lain. Mereka ini disebut dengan “Pet”.

[Sumber: otakotaku.com]

Video Promosi (PV) Anime Pet

Review

Pet Bukan Manusia Super

Pertama-tama, mari kita kenali dulu siapa orang-orang yang disebut dengan “Pet” ini, dan bagaimana mereka bisa ada. Seperti ditulis dalam sinopsisnya, “Pet” merupakan julukan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk masuk dan mengontrol pikiran orang lain.  Latar belakang bagaimana orang-orang ini bisa muncul tidak dijelaskan secara gamblang di awal cerita melainkan disampaikan secara subtil terutama setelah karakter bernama Hayashi, muncul bersamaan dengan berbagai flashback minor yang ditampilkan dalam keseluruhan cerita. Bila ditelusuri, keberadaan Hayashi dan masa lalunya sebagai master Qi dari Mongolia adalah benang merah dari keberadaan para “Pet” lainnya yang menjadi tokoh utama dalam seri ini (Hiroki, Tsukasa, dan Satoru).

Satu hal yang perlu dipahami sebelum kita melanjutkan pembahasan ini lebih jauh adalah: Para “Pet” sesungguhnya merupakan orang-orang malang yang mengalami cacat otak.

Bagaimana bisa? Mari kita bahas…

Delapan Level Kesadaran

Sebagai makhluk hidup berakal budi, manusia dapat berpikir dan bertindak untuk menanggapi rangsangan baik secara refleks, insting, sadar, maupun superlatif. Ilmu kedokteran mengurutkan tingkat kesadaran manusia dalam delapan level [5], yaitu: Metaconscious (Kesadaran metafisik), Conscious (Sadar, sebagaimana kehidupan normal), Confused (kebingungan, linglung), Delirious (bengong, mengigau), Somnolent (mengantuk berat), Obtunded, Stuporous, dan Comatose (Koma). Orang dalam keadaan Metaconscious pada level tertentu bahkan dapat mengatur gerakan napas, denyut jantung, laju pencernaan, dan berbagai gerak autonom lainnya dalam tubuh. keadaan Metaconscious sering kali dipraktikkan dalam berbagai ajaran meditasi, dan pada beberapa kepercayaan digambarkan sebagai Zen (puncak kebatinan) dalam meninggalkan hasrat duniawi. Conscious, Confused, Delirious, Somnolent lazim dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi dinamika normal dalam kehidupan manusia. Di sisi lain walaupun termasuk dalam darurat medis, koma merupakan istilah yang cukup populer dalam berbagai cerita fiksi maupun drama. Lain halnya dengan keadaan Obtunded dan Stuporous yang mungkin jarang diketahui banyak orang.

Obtunded merupakan keadaan ketika seseorang kehilangan minat (baik minat sadar maupun minat insting) terhadap sekelilingnya. Dalam keadaan obtundansi, seseorang masih bisa merespon terhadap rangsangan, tetapi dengan respon perlahan. Salah satu level awal obtundansi adalah keadaan yang dialami seseorang saat sedang mabuk berat. Pada obtundansi akut, penderita bahkan hanya merespon melalui mimik wajah, gerakan bola mata, maupun gerakan sederhana untuk menghindari sumber sakit.

Apabila seseorang tidak mampu lagi untuk merespon apa pun selain respon otomatis non-biologis (misalnya: respon kornea mata yang menutup ketika disinari cahaya terang), maka ia disebut memasuki keadaan Stuporous. Kondisi ini sendiri dibagi menjadi banyak level dan pada sebagian besar levelnya, penderita tidak ubahnya seperti “boneka hidup”. Stuporous sendiri bisa terjadi karena banyak faktor: Mulai dari degradasi otak akibat Alzheimer, trauma di kepala akibat benturan keras dan cedera kepala permanen, dan cacat genetik sejak lahir.

Ilustrasi seorang perawat sedang mengurus pasien stupor.

Perlu diketahui bahwa seseorang dalam keadaan stupor berbeda dengan seseorang yang mengidap paralisis (lumpuh). Penderita kelumpuhan masih memiliki kesadaran penuh dan pada banyak kasus memiliki kecerdasan normal. Mereka hanya tidak mampu menggerakkan anggota badan secara sadar, namun masih memiliki kecerdasan dan kesadaran. Sebaliknya, seseorang yang menjadi stupor tidak memiliki kecerdasan dan kesadaran lagi. Secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan IQ dan EQ bernilai nol (bahkan orang idiot pun masih memiliki kesadaran dan kecerdasan). Pada banyak kasus mereka bahkan tidak menanggapi rangsangan sama sekali ketika disakiti, atau bahkan dibunuh sekalipun. Beberapa respon penting untuk mempertahankan kehidupan pun dapat hilang. Misalnya, secara alami manusia akan menelan atau meludahkan makanan yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Orang dalam keadaan stupor bahkan tidak mampu melakukan ini. Karena menanggapi rangsangan merupakan salah satu ciri makhluk hidup, maka manusia dalam keadaan stuporous dan koma telah kehilangan salah satu ciri kehidupannya.

Obtundansi maupun stupor yang merupakan bawaan lahir adalah salah satu contoh ekstrim yang hanya terekam beberapa kasus di dunia ini. Gejala sejak lahir ditandai dengan bayi yang tidak menangis saat dilahirkan, dan tidak menunjukkan refleks menyusui saat mulutnya ditempelkan pada susu melon oppai hongkadongka badongkas payudara sang ibu. Sebagian besar kasus stupor biasanya tidak permanen misalnya seperti dalam gangguan katatonia [6] [7]. Namun dapat juga menjadi permanen akibat trauma fisik pada otak maupun trauma psikologis yang berkaitan pada keterbelakangan mental. Manusia stupor dapat bertahan “hidup” dengan perawatan penuh, namun sering kali menjadi korban kejahatan kemanusiaan seperti…, demikianlah.

Mengubah Boneka Hidup Menjadi Manusia Super

Satoru kecil dalam keadaan obtundensi akibat luka di kepalanya yang disebabkan oleh KDRT.
Satoru dewasa yang bekerja untuk “organisasi”, setelah diberikan imaji oleh Hayashi.

Sebuah “organisasi” bawah tanah mempekerjakan para Pet untuk berbagai keperluan. Mulai dari menghapus jejak kejahatan mafia, menyelidiki suatu kasus, hingga melakukan pembunuhan tanpa meninggalkan jejak. Para pet ini mendapatkan kemampuan mereka dari Hayashi, seorang master Qi dari Tiongkok Daratan yang sedang dalam pelarian dan memakai nama samaran. Tidak jelas dari mana asal-usulnya maupun bagaimana ia mampu melakukan semua yang ia lakukan di dalam serial ini. Namun, diceritakan bahwa Hayashi bersama sang “bos organisasi” berkeliling mencari anak-anak obtundansi dan stupor untuk “disembuhkan” melalui aliran Qi dari Hayashi dan pemberian imaji.

Hayashi dalam serial ini menjelaskan bahwa anak-anak malang tersebut tidak memiliki kesadaran akibat tubuh spiritual mereka tidak memiliki koneksi ke tubuh fisiknya. Koneksi tersebut bernama “imaji”. Kabar baiknya, seseorang yang memiliki kondisi seperti ini mampu disembuhkan dengan meminjamkan imaji milik diri sendiri kepada yang bersangkutan. Karena orang-orang semacam ini tidak pernah memiliki ikatan imaji mereka sendiri, mereka bisa dengan leluasa masuk ke imaji dan ingatan orang lain (“tubuh spiritual” orang lain), lalu mengutak-atiknya. Mereka inilah disebut “Pet”, yang dalam keseluruhan cerita dimanfaatkan oleh “organisasi” untuk melakukan berbagai pekerjaan bawah tanah.

Tentu saja di dunia nyata, tidak ada cara untuk menyembuhkan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran. Namun, karena ini adalah cerita fiksi, mari kita terima “keajaiban pengobatan tradisional Tiongkok” ini, dan melanjutkan pembahasan kita.

Karunia atau Kutukan?

Walaupun terdengar sangat keren dan seperti sebuah anugerah, kondisi ini memiliki banyak risiko. Salah satunya adalah ikatan afeksi dan ketergantungan yang kuat kepada si pemberi imaji yang bisa muncul sebagai obsesi. Oleh karena itu mereka dijuluki sebagai “Pet” (“peliharaan”). Hal ini dapat diamati pada hubungan Hiroki dan Tsukasa, di mana Hiroki sangat menempel pada Tsukasa sebagaimana hubungan seorang kekasih (yang sering disalahartikan para penonton sebagai homoseksualitas). Walaupun ketergantungan ini adalah akibat dari mekanisme pemberian imaji, namun dengan pola asuhan dan bimbingan mental yang baik para pet ini dapat hidup mandiri dan memiliki kontrol pribadi terhadap perasaan mereka seperti manusia normal pada umumnya. Hal ini dapat diamati dari hubungan Satoru dan Hayashi, di mana ikatan afeksi Satoru kepada Hayashi lebih seperti ikatan anak terhadap bapaknya. Satoru bahkan mampu bertahan mandiri selama Hayashi melarikan diri ke Cina selama beberapa tahun saat Hayashi mencoba kabur dari organisasi.

Momen “BL” Tsukasa dan Hiroki. Walaupun mereka bukanlah seorang homoseksual.

Salah satu risiko lain yang paling berbahaya adalah ketika tubuh spiritual seorang pet memasuki alam pikiran orang lain, mereka sebenarnya melepas ikatan imaji mereka sendiri ke tubuh fisik orang lain (melalui sentuhan maupun rangsangan hipnotis dan sebagainya). Baik “Pet” maupun korban mereka akan sama-sama berada dalam keadaan stupor selama proses ini. Apabila diganggu, maka imaji pinjaman milik seorang “Pet” akan benar-benar hancur dan mereka akan kembali menjadi manusia boneka seperti saat sebelum mereka mendapat pinjaman imaji. Lebih mengerikan lagi adalah bahwa sang pemberi imaji pinjaman juga akan terpengaruh sedikit maupun banyak. Pada kasus-kasus yang ditampilkan dalam anime ini, bisa jadi keduanya tidak akan terselamatkan lagi dan kembali dalam keadaan stupor seumur hidupnya. Organisasi mulai melihat kelemahan ini dan berpikir bahwa hal ini cukup berbahaya untuk menguak segala kegiatan mereka selama ini. Terutama jika para “Pet” dan “majikannya” (pemberi imaji) memiliki kehendak bebas, ada kemungkinan mereka akan makar dan melawan organisasi. Hal inilah sebenarnya rencana Hayashi sejak awal, dia ingin menyembuhkan anak-anak tanpa kesadaran ini sebanyak mungkin dan mendidik mereka untuk menghancurkan organisasi dari dalam pelan-pelan lalu mengajak mereka kabur untuk hidup dengan tenang di Mongolia.

Hayashi, penyebab seluruh cerita ini bisa ada.

Sayangnya, rencana panjang Hayashi ini tercium oleh para petinggi, membuat dia harus kabur selama beberapa tahun ke Tiongkok Daratan dan menunggu situasi mereda. Selama masa pelarian Hayashi itu pula, organisasi mulai mengembangkan cara baru dengan menculik anak-anak jalanan dan melepaskan paksa imaji mereka. Anak-anak ini disebut “baby”, dan “baby” pertama yang mulai dimanfaatkan adalah Meiling yang diasuh oleh Long dan Jin. “Baby” ini nantinya akan digunakan sebagai perantara saja untuk memasuki alam pikiran orang lain, mereka tidak dibiarkan memiliki imaji sendiri dan dirawat hanya sebagai boneka, secara harfiah. Hayashi yang mengetahui hal ini khawatir pada “anak-anaknya” (Satoru dan Tsukasa, yang ia berikan pinjaman imaji miliknya), dan berencana untuk membawa mereka kabur bersamanya sambil berusaha menyembuhkan Meiling. Namun sayangnya, segala rencananya gagal dan ia berakhir menjadi pria tua yang koma akibat kehilangan imajinya sendiri.

Long, Jin, dan “baby” mereka: Meiling.

Penutup

Jadi, itulah latar belakang segala drama dan konflik yang terjadi pada anime ini. Narasi yang unik cenderung “nyeleneh” dan alur maju-mundur yang dipakai membuat beberapa orang sulit mencerna apa sebenarnya benang merah dari cerita berseri ini. Jika ingin menelaah anime ini dalam kulit kacang: Pet menceritakan kisah para “pet” yang bekerja dalam dunia bawah tanah sebagai kisah tragedi orang-orang malang dalam situasi yang buruk, dibumbui dengan kegiatan mafia dan “keajaiban penyembuhan tradisional Tiongkok” sebagai penggerak plot. Walaupun tentu saja konfliknya tidak sesederhana itu karena banyak intrik, dan krisis yang disajikan. Bagaimanapun anime ini adalah masterpiece yang harus ditonton semua penggemar genre psikologis dan supranatural.

Setelah membaca artikel ini, apakah kalian masih ingin bisa memasuki dan mengacak-acak pikiran orang lain?

[Penafian: Seluruh pembahasan ini merupakan teori fans yang dibuat secara pribadi oleh penulis]

Rujukan

[1] https://myanimelist.net/anime/37522/Pet/reviews

[2] https://doublesama.com/2020/04/25/pet/

[3] https://steemit.com/anime/@dlstudios/pet-anime-review-it-would-be-a-lot-more-interesting-if-you-had-an-idea-of-what-was-going-on

[4] https://www.wibugabut.com/2020/01/pet-anime-yang-rumit-dengan-latar-yang.html

[5] Porth C (2007). Essentials of Pathophysiology: Concepts of Altered Health States. Hagerstown, MD: Lippincott Williams & Wilkins. p. 835. ISBN 978-0-7817-7087-3.

[6] https://jamanetwork.com/journals/jamapsychiatry/article-abstract/210437

[7] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5183991/

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More