[Review] A.I.C.O. Incarnation: Penuh Sesak Oleh Eksposisi

0 167

SINOPSIS

Di Jepang pada tahun 2035, terjadi kecelakaan di sebuah proyek penelitian yang dikenal sebagai “Burst”. Hal tersebut membuat kehidupan-buatan jadi tak terkontrol dan menyebar ke seluruh Kurobe Gorge.

Kota penelitian yang sebelumnya dipuji-puji sebagai harapan kemanusiaan kini ditutup pemerintah. Dua tahun kemudian, Tachibana Aiko yang kehilangan keluarganya di Burst, belajar sesuatu yang luar biasa dari murid baru bernama Kanzaki Yuuya untuk mengungkap berbagai misteri, dia memutuskan untuk menyusup ke area terlarang bersama tim penyelam dan Yuuya. Namun, mereka kemudian menyadari bahwa nasib umat manusia kini berada di tangan mereka.

[Sumber: Dafunda.com]

CUPLIKAN A.I.C.O. INCARNATION

ULASAN

A.I.C.O. Incarnation rasanya bakal lebih cocok bila dituturkan dalam media novel. Mengingat poin-poin cerita dalam anime ini hampir seluruhnya dipaparkan lewat teknik tell ketimbang show. Bisa dimaklumi, pasalnya banyak hal yang harus disampaikan ke penonton. Begitu banyak, hingga dalam beberapa episode saja, terutama di paruh awal, durasi lebih sering dihabiskan untuk eksposisi, menjelaskan berbagai kondisi yang berlangsung dalam dunia rekaan Kazuya Murata (Suisei no Gargantia, Seikaisuru Kado). Dari latar belakang tokoh utama hingga asal mula bencana yang menimpa Jepang di tahun 2035.

Bencana itu disebut “Burst”. Sebuah insiden yang menyebabkan mahkluk bernama Matter memenuhi Ngarai Kurobe dan berpotensi menghancurkan Jepang bahkan dunia bila berhasil melewati Gate—bendungan yang menjadi penghalang terakhir bagi Matter. Belakangan diketahui bahwa pemicu bencana tersebut ialah operasi pertukaran tubuh buatan yang dijalani Aiko Tachibana, setelah tubuh aslinya terluka parah pasca mengalami kecelakaan mobil. Menurut seorang murid pindahan misterius bernama Yuya Kanzaki, satu-satunya kunci untuk menghentikan Burst adalah dengan menukar kembali tubuh Aiko seperti sedia kala. Berniat melakukan itu, bersama para Diver yang bertugas memberi proteksi, Yuya dan Aiko pun bertolak menuju titik pusat bencana, Primary Point. Tempat di mana tubuh asli Aiko berada.

Plotnya terbilang straightforward, hanya mengisahkan pertualangan Yuya, Aiko, dan para Diver menyusuri Ngarai Kurobe, sambil sesekali berpindah menyoroti subplot tentang seorang profesor dan anaknya yang terbaring koma. Seperti yang telah disinggung, episode awal A.I.C.O. Incarnation langsung diisi banyak eksposisi.

Metode itu bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, sejak awal penonton telah diberi bekal mengenai keadaan dunia, motivasi dan tujuan karakter, serta istilah-istilah asing yang kerap bersliweran, sehingga ketika masuk inti cerita, atensi bisa lebih fokus mengikuti alur, tanpa dibayangi pertanyaan-pertanyaan terkait hal-hal tersebut. Di sisi lain, dijejali banyak informasi sekaligus terasa melelahkan. Belum lagi, sepanjang perjalanan, penonton masih harus disuapi sederet penjelasan verbal yang terkadang muncul secara kurang natural. Saat Profesor Izasu membicarakan eksperimen tubuh duplikat di ruang rawat anaknya adalah salah satu contohnya.

Sibuk mengisi durasi dengan beragam uraian, Murata kehabisan tempat untuk memasok emosi. Beberapa momen dramatik yang hadir seringkali berlalu datar lantaran tak ditunjang set-up memadai. Sebutlah ketika salah satu karakternya tertimpa tragedi. Kejadian itu urung memberi dampak, sebab penonton tak diberi kesempatan mengenal lebih jauh karakter yang bersangkutan. Hasilnya, tak ada kepedulian yang terbentuk. Begitu juga dengan adegan yang menyangkut Aiko dan keluarganya di third act. Dalam usahanya membangun pondasi emosi untuk momen tersebut, Murata hanya mengandalkan kepingan-kepingan kenangan masa lalu Aiko yang terus diulang-ulang. Repetitif, juga kurang efektif.

Meski gaya penceritaannya kaku dan dingin, tak bisa ditampik bahwa A.I.C.O. Incarnation tetap berhasil menyampaikan kisahnya secara padat dan komprehensif. Memastikan penonton memahami secara menyeluruh segala hal yang terjadi dalam semestanya. Tidak hanya memaparkan sebab-akibat dari Burst, animenya juga memperlihatkan respons penanggulangannya, lewat beberapa detail yang membuat pembangunan dunia dalam seri ini tampak lebih hidup. Seperti tindakan pemerintah yang mengubah sejumlah bendungan menjadi Guillotine Shutter, alat untuk mengkristalisasi Matter. Atau penggunaan live suit, pakaian khusus Diver yang terbuat dari artificial organism. Live suit amat efektif untuk menandingi fleksibilitas Matter. Selain bisa menyesuaikan dan menyatu dengan tubuh sehingga membuat penggunanya dapat bergerak lebih leluasa, baju ini juga dilengkapi pendorong yang mampu mempercepat dan memperlambat gerakan. Berkat itu pula, tercipta rangkaian sekuen aksi yang gesit.

Menjelang akhir, animenya mengeluarkan 2 pelintiran yang berkaitan dengan 2 tokoh utamanya. Satu mudah ditebak, satu lagi punya daya kejut yang cukup menyentak. Twist kedua, selain tidak terduga, juga memiliki alasan yang masuk akal mengapa fakta itu harus ditutup rapat-rapat, baik secara logika maupun perasaan. Pun memberi ruang bagi A.I.C.O. Incarnation untuk berbicara mengenai eksistensialisme. Meski hanya tampil di permukaan—Murata tampaknya memang tidak berniat membahasnya lebih dalam—tapi cukup untuk memberi dimensi pada sang protagonis, membuka jalan baginya memasuki tahap perkembangan karakter yang berisi proses penerimaan diri.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More