[Ngopini] Memahami “Kesadaran Distingtif-Dualistik” dalam Anime Oshi No Ko

Kanau.orgOshi No Ko adalah anime yang diangkat dari sebuah manga asal Jepang yang menceritakan tentang seorang dokter spesialis kandungan bernama Goro Amemiya yang tengah bertugas merawat seorang pasien bernama Hoshino Ai, sosok yang merupakan idol favoritnya.

Ketika itu, Ai tengah hamil diluar nikah. Singkat cerita, pada hari dimana Ai akan melahirkan, Goro dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Setelah kematiannya, Goro bereinkarnasi menjadi salah satu dari bayi kembar yang dilahirkan Ai, Hoshino Aquamarine.

Serial anime Oshi no Ko ini ditulis oleh Akasaka Aka dan diilustrasikan oleh Yokoyari Mengo. Manga ini terbit dalam majalah weekly Young Jump pada April 2020 lalu. Untuk adaptasi animenya sendiri tayang pertama kali pada 12 April 2023.

Adegan dalam Anime Oshi No Ko yang Dibahas

Hoshino Ai
Hoshino Ai ditusuk

Terdapat satu adegan dalam cerita ini yang cukup menarik sekaligus menyedihkan untuk disaksikan, yakni adegan penikaman Hoshino Ai yang tengah melakukan persiapan untuk tampil dalam sebuah konser solo B-Komachi (nama grup idola yang melambungkan nama Hoshino Ai) di “Tokyo Dome”.

Adegan tersebut terjadi selang beberapa tahun setelah Ai melahirkan anak-anaknya. Perlu diketaui, “Tokyo Dome” adalah pentas yang menjadi mimpi dari setiap idol di Jepang untuk menggelar konser solo. Sehingga Tokyo Dome dianggap sebagai panggung yang paling bergengsi dalam karir sebagai seorang idol.

Pada hari dimana konser itu seharusnya digelar, Hoshino Ai ditikam oleh seorang penggemar yang mengetahui perihal kelahiran anak-anaknya. penggemar tersebut tidak terima dan menganggap Ai sebagai seorang idol telah berbohong dan menghianati para penggemarnya, sebab sang idol pujaannya tersebut telah hamil di luar nikah.

Ai terbunuh di rumahnya, saat sedang bersiap untuk pertunjukan konser di Tokyo Dome.

Beberapa saat setelah tertikam, di sisa-sisa nafas terakhirnya, sempat terjadi dialog antara Ai dan penggemar fanatiknya itu. Penggemar tersebut mengatakan bahwa dia lebih menderita daripada Ai.

Dia juga menambahkan bahwa Ai selalu memandang rendah para penggemar, dan diam-diam mengatakan mereka idiot. Ai juga di-cap sebagai  pembohong karena selalu berkata mencintai para penggemarnya, tapi ternyata malah menjalin hubungan dengan orang lain, bahkan sampai hamil dan memiliki anak.

Mendengar pernyataan fans tersebut, Ai berusaha menjawab dengan jujur bahwa dia memang orang yang selalu berbohong. Dia selalu mengatakan kebohongan pada semua orang. dengan harapan, kebohongan itu  suatu saat akan menjadi kenyataan. Baginya, kebohongan adalah cinta.

Dengan caranya sendiri, Ai akan mengungkapkan cinta itu. Bahkan sampai pada saat dimana ia akan meninggal, Ai tetap ingin mencintai penggemar yang telah melukainya tersebut tersebut.

Penggemar fanatik itu lantas mengatakan bahwa Ai sedang berbohong seraya bertanya, “Kau saja tidak ingat denganku, kan?” Ai dengan cepat menjawab, “Kamu Ryosuke-kun, kan?, kamu sering datang ke acara jabat tangan.”

Mengetahui hal tersebut, penggemar itu menyesal dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia berlari keluar dari TKP, kemudian membunuh dirinya sendiri beberapa saat setelah kejadian itu.

Kesadaran Distingtif-Dualistik

Kesadaran distingtif-dualistik adalah salah satu dari lima bentuk kesadaran yang dibahas dalam Teori Transformasi Kesadaran. Teori ini dirumuskan oleh Reza A.A Wattimena, seorang peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu, dan Kebijaksanaan Timur.

Beliau adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Sekaligus Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Teori ini digagas untuk memetakan keadaan batin dasar manusia (basic human state of mind) dalam kaitannya dengan seluruh semesta.

Dalam teori ini, Wattimena membagi kesadaran kedalam lima bentuk dan tingkatan, yakni kesadaran distingtif-dualistik, kesadaran immersif, kesadaran holistik-kosmik, kesadaran meditatif, serta kesadaran kekosongan. Namun, pembahasan kali ini hanya akan berfokus pada bentuk kesadaran yang pertama sekaligus kesadaran terendah dan paling merusak, yaitu Kesadaran Distingtif-Dualistik.

Kesadaran distingtif-dualistik (distinctive-dualistic consciousness) merupakan kesadaran subyek-obyek (Subjekt-Objekt-Bewusstsein). Kesadaran tipe ini terbentuk karena adanya ilusi keterpisahan (illusion of separation) antara “aku yang sadar” dan “yang lain” (the other), yakni bangsa lain, agama lain, ras lain, aliran lain, gender lain, spesies lain, binatang, hewan, alien dan sebagainya (Wattimena, 2023:14). Ketika berada dalam kesadaran ini, kita akan menganggap diri kita sebagai makhluk yang istimewa.

Sementara yang selain kita, yakni orang lain, bahkan alam semesta sekalipun akan dilihat sebagai benda mati yang layak dipergunakan dan dieksploitasi sepenuhnya untuk kepentingan diri kita dan kelompok kita.

Kesadaran inilah yang menjadi pondasi bagi terciptanya penggundulan hutan, krisis lingkungan, masalah iklim, perbudakan, teror, pembunuhan, perang, dan segala bentuk kekerasan yang terjadi di alam raya ini.

Orang dengan kesadaran distingtif-dualistik sangat berbahaya dan patut untuk dihindari karena tidak hanya menjadikan orang itu menderita dengan tingkat kesadarannya tersebut, tapi juga berpotensi membuat orang lain menderita bersamanya.

Tentang Oshi No Ko dan Kesadaran Distingtif-Dualistik

Penikam Hoshino Ai
Fans pembunuh Hoshino Ai

Pada salah satu adegan dalam anime Oshi No Ko yang telah dibahas sebelumnya, serta penjelasan singkat mengenai kesadaran distingtif-dualistik. Maka, kita dapat mengetahui bahwa Ryosuke, yakni penggemar fanatik Hoshino Ai berada dalam bentuk dan tingkat kesadaran distingtif-dualistik.

Kesadaran ini adalah tipe kesadaran yang berbahaya dan paling merusak. Ryosuke melihat idolanya, Ai Hoshino sebagai objek yang ada hanya untuk memenuhi kepuasannya semata.

Dia melihat Ai sebagai benda mati yang layak dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingannya, tanpa berpikir bahwa idolanya itu juga manusia yang punya kehidupannya sendiri dan berhak untuk Bahagia.

Kesadaran distingtif-dualistik membuat Ryosuke terjebak pada ilusi keterpisahan (illusion of separation) yang membuat dirinya merasa lebih istimewa dan berbeda dari yang selainnya, sehingga berhak untuk menyakiti serta berbuat semaunya terhadap orang lain.

Tidak hanya menderita sendirian, dalam hal ini Ryosuke merasa dikhianati oleh idolanya, tapi juga membuat orang lain menderita bersamanya, yakni melakukan kekerasan fisik dan verbal kepada orang yang dirasa telah mengkhianatinya, dalam hal ini adalah idolanya sendiri, Hoshino Ai.

Kesimpulan

Kesadaran distingtif-dualistik merupakan kesadaran subyek-obyek yang terbentuk dari adanya ilusi keterpisahan (illusion of separation), saat orang yang berada pada tingkat kesadaran ini akan menganggap dirinya istimewa, serta melihat orang lain sebagai benda mati yang layak untuk di eksploitasi demi kepentingan pribadinya.

Sudah barang tentu kesadaran ini menjadi sesuatu yang berbahaya lagi merusak. Terlebih lagi, orang yang berada dalam tingkat kesadaran distingtif-dualistik tidak hanya ingin menderita dengan kesadarannya itu, tapi juga berpotensi untuk membuat orang lain menderita bersamanya.

Perihal kesadaran distingtif-dualistik ini tergambar jelas dalam Anime Oshi No Ko, tepatnya pada adegan penikaman Hoshino Ai oleh Ryosuke, penggemar fanatiknya karena merasa dikhianati oleh idolanya tersebut.

Tentu saja penikaman itu terjadi karena Ryosuke berada dalam tingkat kesadaran distingtif-dualistik. Dia melihat dirinya berbeda dan lebih istimewa dari orang lain, sehingga orang lain dianggap hanya sebagai pemuas keinginan pribadinya.

Jika keinginannya itu tidak terpenuhi, maka orang lain yang dimaksud pantas untuk disakiti, tak pedui bahwa orang tersebut juga manusia yang punya kehidupannya sendiri dan berhak untuk bahagia.

Penjelasan singkat di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita, bahwa sesuatu selain kita, baik itu orang lain, kelompok lain, bahkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini sama berharganya dengan diri kita sendiri.

Kita harus melihat sesuatu di luar diri kita sebagaimana adanya, agar tidak terjadi hal yang merusak seperti perbudakan, perang, teror, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, hendaknya kita menghindari kesadaran distingtif-dualistik ini dan menuju kepada kesadaran yang lebih tinggi, seperti kesadaran immersif, kesadaran holistik-kosmik, kesadaran meditatif, juga kesadaran kekosongan.