Memahami Sasaki Kojiro di Record of Ragnarok

0 791
Memahami Sasaki Kojiro di Record of Ragnarok

Kanau.org – Sasaki Kojiro, tokoh terkenal dikalangan pecinta anime khususnya penulis. Penulis begitu takjub melihat penggambaran beliau mulai dari latarnya, desain serta perawakannya yang biasa saja, tetapi gagah berani. Dikenal sebagai pecundang paling terkenal di dunia karena mengaku kalah padahal belum sepenuhnya kalah. Sikapnya tersebut ada maknanya, penulis akan jelaskan nanti. Penggambaran beliau sebagai pecundang paling terkenal di dunia juga disebutkan dalam Fate series, khususnya Fate/Stay Night.

Banyak tokoh zaman dahulu yang diilustrasi ulang berdasarkan kultur post-modernisme, menyesuaikan latar dan perawakan juga. Salah satunya diambil dari manga berjudul Record of Ragnarok dan diadaptasi menjadi serial animasi untuk Netflix. Begitu banyak kritik dilontarkan mengingat kualitas animasinya tidak begitu bagus pada awal episode. Namun seiring berjalannya cerita, kualitas animasi makin membaik dengan intensitas adegan pertarungan yang tidak semata-mata powerpoint saja.

Suara dari masing-masing pengisi suara juga ada yang kurang cocok dengan tokoh yang diperankan. Kritik dari segi pengisi suara ini adalah suara Brunnhilde, yang justru sama persis dengan Herrscher of Thunder di Honkai Impact 3rd dan Raiden Shogun di Genshin Impact. Untungnya, tone suaranya bisa dibuat lebih dalam dari sebelumnya dan ini menjadi apresiasi untuk para penonton. Suara Brunnhilde sendiri, diisi oleh pengisi suara kenamaan bernama Miyuki Sawashiro.

Kemunculan Kojiro dimulai pada akhir episode ke-8, bertarung dengan Poseidon yang dingin nan angkuh. Gelar dewa tak terkalahkan membuatnya menutup mata dari dunia luar, membuat kekuatannya stagnan sampai di situ saja tanpa ada perkembangan lagi. Namun hal ini berbeda dengan Kojiro, dia mengembara agar bisa kalah dan berlatih lagi. Cara berlatihnya ini begitu unik, melawan musuh yang pernah ia lawan hanya dalam pikirannya sambil memikirkan berbagai cara agar bisa mengalahkannya. Cara berlatih beliau ini patut ditiru di dunia nyata, bukan hanya dalam bela diri namun resolusi terhadap masalah yang dihadapi. Apa saja itu:

1. Melihat Masalah Lebih Dari Satu Sisi

Kojiro terlihat kelelahan ketika berhadapan dengan Poseidon sedari awal, bahkan sebelum adu ketangkasan pun beliau sudah kelelahan. Hanya berdiam diri duduk di arena pertandingan, menutup mata dan berkonsentrasi melawan Poseidon di pikirannya. Dari situ, beliau memikirkan berbagai cara agar serangannya setidaknya melukai Poseidon meski hanya satu tebasan. Serangan pamungkas Tsubame Gaeshi miliknya pun tidak mempan melukainya.

Penulis menandai kalimat ini, “beliau memikirkan berbagai cara agar serangannya setidaknya melukai Poseidon meski hanya satu tebasan”. Kalimat ini jika ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi: “kita memikirkan berbagai cara agar masalah yang kita hadapi bisa terselesaikan setidaknya untuk diri sendiri”. Transformasi seperti ini penting demi memajukan pemahaman diri kita sendiri. Mari pahami dalil di bawah ini:

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْآ اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌ ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْآ اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Terjemah : “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat di atas dimaknai sebagai landasan dalam berkomunikasi, solusi agar tak termakan hoax. Hal paling mendasar ini dapat menyelamatkan diri kita dari berbagai masalah mendatang. Karena memikirkan keselamatan kita, kita harus membuat verifikasi terkait berbagai informasi yang tersebar jika kita mampu. Jika tidak mampu, lebih baik tutup mulut seolah kita tak tahu menahu apa yang sedang terjadi demi mencegah masalah berskala lebih besar dari yang dihadapi sekarang. Ini dianjurkan oleh Rasulullah sendiri dalam hadisnya berbunyi:

ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ
Artinya : “Barang Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari No. 6018) [1]

Dua dalil di atas merupakan tutorial mendasar dalam mengolah informasi yang didapat. Sasaki Kojiro mendalami ini setelah selalu mengaku menyerah agar menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi dari lautan informasi masa lampau. Selain dalil di atas, Sasaki Kojiro juga mengajarkan kita untuk tak berpatok kepada dalil, tetapi kepada lingkungan sosial juga.

Sasaki Kojiro tak selalu mengandalkan sosok guru handal untuk melatihnya, hampir seluruh hidupnya dihabiskan berlatih dengan mengandalkan kekuatan ingatannya yang begitu fotografis. Jika belum tau, ingatan fotografis (Eidetik) merupakan kemampuan khusus dengan dapat mengingat semua detail yang pernah dia baca atau dia lihat. Dengan demikian, Sasaki Kojiro dapat memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi hanya dengan melihat postur tubuh, pakaian dan senjata Poseidon. Kemampuan Kojiro ini disebut dengan Senju Musou. Jika belum paham, kita bisa menyebutnya dengan Kenbunshoku Haki biasa.

Dari kemampuannya tersebut, berbagai cara dipikirkan oleh beliau bagaimana cara terampuh untuk melukai Poseidon. Kalimat “bagaimana cara” di sini perlu ditandai, ini berhubungan di kehidupan nyata pula. Kojiro memanfaatkan titik buta dari Poseidon yang selalu menghadap ke depan dengan meningkatkan kecepatan gerak Kojiro sendiri demi meraih titik buta tersebut. Kojiro melakukannya tak terburu-buru, tetapi tak lamban juga. Kedua hal itu tentu tidak baik di dunia kita, bukan?

Artinya adalah, setiap tindakan jika bisa dilakukan tepat sasaran, maka lakukanlah. Sama persis ketika kita menyebarkan proposal sponsor, harus tepat sasaran dan tepat waktu. Jika kedua hal itu terpenuhi, maka mereka pasti menerima kita. Pernyataan ana juga didukung dalam dalil berbunyi:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Terjemah: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta diskusilah kepada mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Sebenarnya tanpa memakai dalil pun kita bisa menyelesaikan masalah tanpa berpatokan dengan dalil, namun perbuatan kita sesuai dengan dalil. Biasanya ini diberi istilah sebagai ilmu Living Qur’an atau Living Hadis. Sebagai permisalan, si Z bermasalah dalam hidupnya dan kita penasaran terhadap masalah si Z ini. Si A mengatakan si Z sedang putus cinta, si B mengatakan si Z tidak semangat dalam kuliahnya, si C mengatakan si Z berkonflik dengan keluarganya dan si D mengatakan si Z kehilangan sepeda motornya.

Untuk mengetahui mana yang benar, kita harus bertanya kepada mereka semua mulai dari A, B, C dan D. Jika jawaban salah satu dari mereka benar, maka kita mencoba menemukan solusi dari permasalahan si Z. Ternyata jawaban si A benar, si Z sedang putus cinta. Karena kita mengetahui si Z ini sedang putus cinta, kita mencoba menemukan solusinya dengan bertanya kepadanya apa yang disuka. Jika tidak menemukan solusi, buat si Z melupakan masalahnya sejenak dengan mengajaknya kemanapun kita mau. Sepele dan remeh memang, namun kita telah menyelamatkan hidupnya serta masa depannya secara tidak langsung.

2. Setarakan Posisimu dengan Lawanmu

Sebagai sesama petarung terpilih demi menyelamatkan kehidupan umat manusia, Sasaki Kojiro bertarung dengan sengit melawan Poseidon. Saat Kojiro sedang berpikir diam memikirkan berbagai cara terampuh menyerangnya, Poseidon membalasnya dengan menguatkan kekuatan fisiknya agar ketika diserang ia bisa menghindar atau setidaknya tidak menimbulkan luka fatal dari serangannya. Terlebih ketika Poseidon mengeluarkan teknik ganasnya hingga Monohoshizao milik Kojiro terbelah dua, Kojiro malah menggunakan belahan Monohoshizao tersebut menjadi pedang kedua dan mengganti teknik bertarungnya menjadi gaya dua pedang milik Miyamoto Musashi.

Sama halnya di dunia nyata, kita harus menyetarakan posisi kita dengan posisi lawan kita. Kalau ada orang yang ingin curhat kepada kita, kita memposisikan diri sebagai pendengar. Kalau ada orang yang ingin berkonsultasi kepada kita, kita memposisikan diri sebagai pembimbing. Kalau ada orang yang menginginkan sentuhan hangat kepada kita, kita memposisikan diri sebagai sang pemberi sentuhan tersebut.

Kalau dari profesi, juga ada. Kalau ada orang yang ingin membeli dagangan kita, kita memposisikan diri sebagai penjual. Kalau ada orang yang ingin kita mengajarinya, kita memposisikan diri sebagai guru. Kalau ada orang yang kebingungan memilih gadget atau laptop, kita memposisikan diri sebagai pemandu gadget atau laptop. Begitu banyak permisalan di dunia ini dan begitulah indahnya dunia yang hidup ini ketika kita memiliki beragam kehidupan. Tuhan pun banyak menggunakan permisalan dalam kitab suci.

Penyetaraan posisi ini dapat membuat lawan kita segan kepada kita, dan ada kemungkinan lawan kita menginginkan kita sebagai lawannya kembali karena kita telah menghargai posisinya. Dari situ, terjalin ikatan batin diantara mereka dan makin erat seiring berjalannya waktu. Kita menuai apa yang telah kita tuai dari dulu kala. Pernyataan poin ini sesuai dengan firman Tuhan berbunyi:

ٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Terjemah: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

3. Semakin Terdesak, Semakin Kuat

Sasaki Kojiro menekankan pemahaman ini ketika menahan serangan Poseidon yang sebegitu banyaknya. Semua serangan on-point dapat ia tangkis begitu mudah. Namun perlu diingat, dia tetap manusia, tetap bisa lelah dan seluruh organ tubuhnya juga punya batas maksimal tenaga yang dapat dikonversikan. Hal ini diketahui ketika ia hampir mencapai batasnya saat sedang menangkis semua serangan Medusa Alope Demeter dari Poseidon, tetapi dia masih belum mengeluarkan serangan mematikannya.

Ketika ia berada dalam posisi itu, seluruh gurunya menyemangatinya karena mengetahui Kojiro masih belum mengeluarkan serangan mematikannya, Niten Ganryu Ougi: Soen Zanko Banjin Ryouran. Dukungan mental dari mereka membuat Kojiro bertekat untuk menang, setidaknya sekali untuk selamanya. Posisi seperti ini dijelaskan dengan penjelasan dari ahli DNA dari Jepang, berbunyi:

“Untuk membangkitkan kekuatan diri Anda, biarkanlah diri Anda terdesak.” [2]
-Kazuo Murakami

Kalau diaplikasikan ke dalam dunia nyata, ini banyak sekali permisalannya. Seperti kita sudah bernadzar kepada orang tua kita bahwa kita harus memiliki pekerjaan dalam rentang waktu setahun, dan kita harus menuruti kemauan orang tua kita jika tidak memenuhi nadzar yang dulu telah kita buat. Dalam rentang satu tahun itu, kita dipaksa untuk melakukan yang terbaik demi orang tua kita dan tentunya untuk diri sendiri. Pemaksaan ini akan membangkitkan DNA kita untuk menangkap lebih banyak informasi dari sebelumnya, menjadikan kita lebih kuat dari keinginan kuat kita. Hasilnya adalah kita dapat merasakan perubahan dalam diri baik secara fisik maupun mental.

Kalau dalam konteks anime ini, pembangkitan DNA ini menciptakan teknik baru bernama Manju Musou (Senju Musou yang ditingkatkan berkali-kali lipat), atau kalau belum paham bisa juga disebut sebagai Kenbunshoki Haki tingkat dewa. Dalam anime lain, kemampuan ini juga dimiliki oleh Silvers Rayleigh dalam anime One Piece. Kita kuat karena kita menginginkan diri kita sendiri menjadi lebih kuat dari sebelumnya, namun ingat jangan berlebihan ataupun melebihi batas.

Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Hal tersebut dapat menyebabkan luka fisik maupun mental, hingga ada kemungkinan jatuh sakit ketika kita melakukan sesuatu secara berlebihan. Jika kita melakukan sesuatu secara lambat tak punya tenaga, maka kita dapat tertinggal dari yang lain dari berbagai segi dan dapat menimbulkan stigma atas perbuatan kita sendiri. Berlebihan tidak baik, lambat juga tak baik seperti dalam firman Tuhan berbunyi:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Terjemah: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Endnote

[1] Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 2002), h. 1509.

[2] Agus Haryo Sudarmojo, DNA Muhammad: Aktivasi Gen Positif dengan Shalawat, (Yogyakarta: Bunyan, 2013), h. 120.

Sumber : Miata (Facebook)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More