[Ngopini] Kepribadian Saat Reinkarnasi: Tetap Cowok atau Cewek

0 201
Sekumpulan anime isekai

Hai, salam dingin dari penulis—yang seperti biasa hadir bersama tulisan nirfaedah lainnya. Pada tulisan kali ini, saya ingin bertukar pendapat dengan teman-teman semua tentang kepribadian reinkarnator pasca terlahir kembali dengan memiliki ingatan yang sama, tetapi fisiknya berbeda.

Topik ini terkesan sepele, tetapi sebenarnya cukup penting untuk mencari tahu kelogisan cerita—setidaknya logis menurut pengetahuan di dalam cerita. Soalnya, kepribadian inilah yang menjadi landasan perkembangan cerita ke depannya. Tidak peduli Dewa-Dewi memaksa seorang reinkarnator untuk mengalahkan raja iblis, kalau dirinya ogah, ya ogah.

Membahas lebih lanjut soal kepribadian ini sangat amat teramat benar-benar sekali rumit; permasalah yang kompleks. Ibarat manusia sakit telinga maka tidak hanya telinga saja yang diperiksa, melainkan hidung dan tenggorokan pun ikut diperiksa; siapa tahu ternyata sumber penyakitnya bukan dari telinga, tetapi dari hidung atau tenggorokan.

Kepribadian juga begitu masalahnya. Ada banyak faktor yang membentuk juga memengaruhinya. Tidak sekadar ingatan saja, seperti yang diperlihatkan di anime-anime bertemakan reinkarnasi; hormon, lingkungan, budaya, dan sosial juga ikut berperan dalam pembentukan kepribadian.

Karena itulah, jangan kaget kalau kita menemukan tokoh fiksi yang mengalami perubahan dalam bersikap bahkan pola pikirnya pun berbeda dari diri yang sebelumnya, setelah bereinkarnasi. Sebaliknya, justru fenomena aneh kalau ada reinkarnator yang masih bersikap layaknya dirinya di masa sebelum reinkarnasi. Sangat amat teramat benar-benar sungguh ANEH.

Beberapa tokoh yang mengalami perubahan pada kepribadian dan pola pikir, di antaranya ada Rudeus, Lugh, Rimuru, Tanya, dan Rio—master Shadow-sama alias Chid Kagenoah tidak termasuk; manusia rendahan tidak bisa menalarnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh yang tidak dapat lepas dari perubahan kepribadian disebabkan oleh hormon, lingkungan, budaya, dan sosial. Jika ingatan dari kehidupan sebelumnya memiliki fungsi mempertahankan kepribadian lamanya maka empat faktor sisanya ialah yang memengaruhinya.

Baik, bagaimana jika langsung ke contoh kasusnya saja?

What if: Cowok Bereinkarnasi Jadi Cewek, Apakah Bakal Milih Lurus atau Belok?

===================

Sebelum menjawab pertanyaan, perlu diketahui bahwa penulis akan menjawab dari dua sudut pandang, yaitu acuan fisik setelah reinkarnasi—lurus di sini adalah cewek-cowok, sedangkan belok ialah cewek-cewek—dan ingatan sebelum reinkarnasi—cowok bertubuh cewek menyukai cowok itu Belok, sedangkan cowok bertubuh cewek menyukai cewek adalah Lurus.

===================

Jujur, untuk menentukannya itu sangat sulit sekali. Tidak bisa selesai hanya dengan berpikir saat kita sedang membaca tulisan ini. Butuh penelitian ilmiah. Pasalnya, persoalan ini begitu pelik karena tubrukan antara ingatan dan fisik; lingkungan, budaya, dan sosial.

Jawaban Berdasarkan Ingatan: Memilih Lurus (Belok Menurut Fisik)

Alasannya sangat sederhana. Wah, gila aja kamu sudah hidup bertahun-tahun sebagai cowok, eh pas reinkarnasi malah jadi cewek. Bukan apa, kamu bakal menstruasi, dihamilin, ngelahirin, nyusuin anak, dsb. emang kamu mau?

Penulis sih tidak mau. Mending dimusuhin masyarakat daripada penulis harus mengalami semua itu. Artinya, ingatan akan menguasai; melawan keempat faktor yang ada, yakni hormon cewek, lingkungan, budaya, dan sosial.

Jawaban Berdasarkan Fisik: Tetap Lurus (Belok Menurut Ingatan)

Nah, kalau ini alasannya sangat banyak. Ingatan akan kalah, setidaknya oleh keempat faktor yang ada. Paling besar pengaruhnya tidak lain adalah hormon itu sendiri. Sudah menjadi kodratnya bagi cewek jatuh hati kepada cowok sampai melakukan hubungan badan.

Mudahnya, sudah menjadi naluri manusia untuk berkembang biak, beranak pinak, berketurunan. Satu-satunya cara untuk manusia mempertahankan eksistensinya ialah slebew digidaw berhubungan badan antar lawan jenis.

Dengan bertubuh cewek, terpikat oleh pesona cowok itu wajar. Membenamkan wajah pada dada bidang cowok itu lumrah. Ingin bersandar di punggung cowok yang lebar itu biasa. Juga berbagai aktivitas seksual nan sensual lainnya pun begitu.

Itu baru faktor hormonal, belum lagi pengaruh didikan keluarga, pergaulan, budaya setempat, yang semua itu akan mengubah pola pikir—melawan ingatan kehidupan sebelumnya, “Dah, lah, jadi cewek aja ga masalah. Toh, kehidupan sebagai cowok udah berakhir.”

Aslinya tidak sesederhana itu, faktor internal sendiri ada jiwa, ingatan, otak, dan hormon; faktor eksternal ada lingkungan, budaya, dan sosial yang semuanya saling memengaruhi. Tapi, ya, singkat kata ya seperti jawaban di atas.


Menurut kalian bagaimana? MILIH menjalin hubungan cewek-cewek atau TETAP alias PASRAH dengan menjalin hubungan cewek-cowok?

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More