Fauzul Rizal, Mahasiswa Indonesia Lulusan S2 di Hungaria

0 141

Kanau.org – Bulan kemerdekaan sudah kita lewati, tetapi kita tidak bisa melewatkan sebuah kisah anak bangsa yang sukses di negeri orang. Adalah seorang pria berusia 26 tahun bernama Fauzul Rizal yang berhasil meraih gelar magister di bidang fisika dari Universitas Pécs, Hungaria.

Fauzul bukanlah anak yang lahir dengan keadaan yang menunjang. Ia harus berjuang mendapat beasiswa demi mewujudkan mimpinya sebagai saintis yang diidamkan. Bagi sebagian orang, mungkin hal ini adalah sesuatu yang sulit terwujud. Menjadi saintis saja tidak banyak orang terpikir akan hal itu. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Namun, rintangan itu tidak membuat pria kelahiran Surabaya ini menyerah. Setelah ditolak selama 26 kali, akhirnya Fauzul berhasil mendapat kesempatan belajar yang diinginkannya.

Nah, bagi yang belum tahu, Fauzul adalah anggota grup Animanga Universal, tempat Kanau lahir dan berkembang. Pada Rabu pagi kemarin (31/8), Kanau mendapat kesempatan wawancara dengan Fauzul yang masih tinggal di Hungaria sana. Berikut isi wawancara tersebut.

(keterangan: ‘K’ untuk Kanau, ‘F’ untuk Fauzul)

K: Selamat pagi, Pak Fauzul. Apakah panggilan ini untuk nama Bapak sudah cocok?

F: Selamat pagi. Maaf baru bangun ini, haha. Panggil saja Pak Fauzul atau Sensei tidak masalah (waktu Hungaria berbeda 5 jam dari Jakarta).

K: Pertama-tama, boleh diperkenalkan dulu identitas lengkap bapak?

F: Nama lengkap saya Fauzul Rizal. Sama seperti nama akun Facebook, saya selalu pakai nama asli. Lahir di Surabaya, 31 Januari 1996 (masih sangat muda). Saya baru menyelesaikan studi S2 di Hongaria dan sekarang saya memulai kerja sebagai research assistant (RA) di sebuah research center di Hongaria. Bisa dibilang hampir jadi fisikawan, lah. Oh iya, bidang saya fisika.

K: Sip, itu tadi jawaban untuk dua pertanyaan. Belum sempat bertanya soal pendidikan sudah terjawab. Untuk konfirmasi, benar di Universitas Pécs, kan?

F: Benar. Universitas Pécs.

K: Sebelum di Benar. Universitas Pécs, bisa diceritakan riwayat pendidikan Bapak? (ini seperti wawancara kerja, ya.)

F: Dari sekolah sampai S1 semuanya di Indonesia. SMAnya cuma SMA negeri biasa, SMAN 1 Gondang Wetan (Pasuruan), dan S1 Fisika di universitas negeri Malang. Lulus SMA 2014, lulus S1 2018, kuliah S2 dari 2020-2022.

K: Wah, keliling Jatim, nih. Untuk bisa ke Hungaria, bisa diceritakan kronologinya hingga bisa kuliah di sana?

F: Ah, waktu itu saya memang berniat mencari-cari beasiswa. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tergolong kurang mampu, tapi punya mimpi yang bisa terbilang muluk-muluk: jadi saintis/peneliti. Maka saya butuh pendidikan lanjut.

Waktu itu saya daftar beasiswa banyak sekali, dalam dan luar negeri. Antara 2018–2020 saya sudah daftar 26 beasiswa, yang ke-27 baru berhasil. Akhirnya sekarang keterima beasiswa pemerintah Hongaria. Alhamdulillah berhasil menyelesaikan studi saya dengan baik.

K: Wah, sampai 27 kali akhirnya diterima. Selamat untuk beasiswanya sampai bisa lulus sejauh ini. Untuk kehidupan di Hongaria, bisa diceritakan pengalaman yang berharga/menyenangkan serta kesulitan hidup di negeri orang?

F: Terima kasih.
Pengalaman berharga dan menyenangkan adalah saya bisa ketemu berbagai macam orang dari seluruh dunia di sini. Dan saya sangat bersyukur, sebab dalam bidang akademik kesempatan riset dan mengembangkan diri di Eropa sangat-sangat terbuka. Saya jadi bisa membuka pandangan saya berkat itu. Kesulitan hidup di negeri orang, mungkin soal makanannya ya. Orang-orang tidak bohong kalau bilang masakan Eropa hambar semua, hahahaha. Terutama karena saya muslim harus agak waspada kalau beli-beli makanan karena banyak yang non halal. Sisanya kalau soal iklim, dua-tiga bulan sudah cukup buat beradaptasi.

K: Wah, jadi sudah cukup nyaman di sana ya. Selama menempuh studi S2 di Hongaria, ada rasa rindu tidak dengan Indonesia? Sudah pernah kembali lagi ke Indonesia belakangan ini?

F: Rasa rindu pasti ada. Sering. Bahkan saya ingin kembali, kabur ke rumah. Tapi sayangnya karena biaya hidup saya di sini pas-pasan, saya belum bisa balik selama ini. Insya Allah, akhir tahun atau awal tahun depan saya rencana balik.

K: Bicara soal rencana, Kanau ingin soal rencana ke depannya setelah lulus S2. Apa ada cita-cita yang ingin diwujudkan, atau proyek yang ingin dikerjakan?

F: Setelah lulus S2, sementara karena saya sudah punya pekerjaan, saya akan selesaikan pekerjaan ini dulu. Sisanya saya masih tetap ingin mewujudkan cita-cita sebagai saintis/full researcher. Jadi nantinya saya berencana cari funding untuk PhD. Sisanya saya mengalir saja.

K: Ada rencana mau ambil PhD di mana?

F: Belum ada rencana. Entah tetap stay dengan supervisor yang sekarang atau mau berkelana lagi. Oportunis aja.

K: Ok, yang tadi itu pertanyaan improvisasi, sih. Terakhir, ada yang mau disampaikan kepada komunitas AU atau para pembaca Kanau?

F: Pesan saya, pisahkan kehidupan pribadi dari hobimu. Miliki pendirian yang kuat, jangan biarkan stigma orang-orang dari luar circle-mu mempengaruhimu. Bersikaplah profesional! Jalani hobi sepenuh hati, raihlah mimpi sepenuh hati juga.

Jangan biarkan stigma bahwa “Wibu tidak berprestasi” membuatmu tidak mau berprestasi beneran. Saya yakin, kita semua bisa, kok. Jadi wibu paling akut sekaligus jadi orang paling sukses yang pernah ada.

K: Cakep! Kalau begitu terima kasih atas waktunya, Pak Fauzul. Semoga sukses terus dan meraih apa yang diimpikan.

F: Sama-sama. Doa yang sama buat situ juga.

Nah, itu tadi wawancara yang dilakukan Kanau dengan Pak Fauzul. Semoga kita bisa mengambil poin positifnya dan menjadi wibu berprestasi… dan anak bangsa yang bisa dibanggakan tentunya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More